Selasa, 19 Oktober 2010

GENERATOR PEMBUNUH DAN PEMBANGKIT - Killer and Revival Generator


RENUNGAN KEEMPAT DARI KITAB EFESUS:

”KILLER AND REVIVAL GENERATOR”

EFESUS 4:29

”Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”


”Dasar anak bodoh! Gak pinter ya, mana bisa jadi orang kamu di masa depan!!” Itu adalah salah satu contoh perkataan pembunuh mental anak yang saya tahu cukup banyak orangtua mengucapkannya. Lidah yang mengeluarkan kata-kata kutukan adalah seperti generator pembangkit listrik yang dapat membunuh dan menyetrum orang sampai mati. Memang kita tidak menyadari itu, namun lidah kita ini memiliki kuasa yang amat besar, baik positif maupun negatif. Yakobus 3:9 berkata, ”Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah.” Kuasailah lidah kita dan jangan pernah mengeluarkan kata-kata kotor yang penuh makian, dan kutukan. Memang kita bisa saja marah, tapi cobalah tahan emosi kemarahan yang meluap-luap itu dan pikirkan kata-kata apa yang baik yang dapat kita pergunakan sebagai ganti kata-kata kasar.
Saya sendiri terkadang menerima kata-kata dari orangtua yang rasanya menjatuhkan saya, kata-kata yang membuat saya merasa tidak mampu dan bodoh. Dan hal ini kelak membuat saya berpikir bahwa apapun yang saya lakukan pasti menemui titik kegagalan yang memalukan. Namun saya ingin terus berjuang bersama Tuhan, karena tidak ada kegagalan yang terlalu besar untuk diratapi bersama Dia. Tuhan adalah sumber kemenangan dan keberhasilan sejati!
Suatu saat, ada seorang pria yang sedang berjalan dan berpapasan dengan seorang pengemis yang tua renta dengan tubuh yang membuat dia mustahil untuk bekerja lagi. Si pria berusaha merogoh kantong celananya untuk mengambil dompetnya agar bisa memberi sedekah. Namun apa daya ternyata si pengemis belum beruntung, karena dompet si pria ketinggalan di rumah! Dengan menyesal si pria berkata, “saudaraku, mohon maaf ya, saya ingin sekali memberimu uang, tapi dompet saya tertinggal di rumah, dan sekarang saya harus pulang untuk mengambilnya.” Hal yang mengejutkan diucapkan si pengemis. “Uangmu tidak kuperlukan, karena aku sudah mendapatkan hadiah yang jauh lebih berharga darimu daripada sekadar uang saja!” Dengan heran si pria bertanya, “Apakah itu, saudaraku? Aku belum memberimu apa-apa!” Dengan berlinang air mata si pengemis menjawab, “Engkau sudah memanggilku saudara, dan itu jauh lebih berharga bagi diriku yang hina ini daripada uang yang hampa.... saudaraku!”
Bagaimana, bisakah kita mengeluarkan kata-kata yang baik, membangun, dan membuat orang-orang yang mendengarnya beroleh kasih karunia (ayat 29b) daripada mengeluarkan kata-kata makian? Pakailah lidah anda sebagai generator pembangkit listrik yang benar-benar bisa memberi kehidupan dan energi bagi yang mendengar perkataan anda, daripada menjadikan lidah anda sebagai generator pembunuh yang hanya akan menyerang dan menyetrum orang! Kuasai lidahmu, dan biarlah berkat Tuhan turun atasmu, Glory bagi-Nya!!! (DH)


Dirty and harmful words? No way!
Clean and helpful words ? Yes way!
Teach me Lord to talk in your correct way!
So, I will never talk in a wrong way!



Dibuat tanggal: 16 Oktober 2010

_________________________________________________________________________________

FOURTH REFLECTION FROM THE BOOK OF EPHESIANS:

"KILLER AND REVIVAL GENERATOR"

EPHESUS 4:29

"Let no corrupt communication proceed out of your mouth, but that which is good to the use of edifying, that it may minister grace unto the hearers."


A tongue that produce words of curses are like power generators with electric shocks that can kill people. Indeed we do not realize it, but our tongue has great power, both positive and negative. James 3:8-9 says, "But the tongue can no man tame; it is an unruly evil, full of deadly poison. Therewith bless we God, even the Father; and therewith curse we men, which are made after the similitude of God." Take control of our tongue and never issued a profanity-filled invective, and curses. We can just angry, but try to hold the emotion of anger and think about what words are good that we can use instead of harsh words.
Me myself sometimes accept the bad words from my parents, the words that made me feel inadequate and stupid. And it will make me think that whatever I do definitely will end in failures. But I want to continue to struggle with God, since no failure is too great to mourn with him. God is the source of triumph and a true success!

Once, there was a man who was walking and bumped into an elderly beggar with a body that makes him impossible to work again. The man tried to reach the pockets of his pants for his wallet in order to give alms. But the beggar has not been lucky, because the man left his wallet at home! With regret the man said, "my brother, I'm really sorry, I'd love to give you money, but I left my wallet at home, and now I must go home to pick it up." The beggar reaction was so surprised the man. "Your money is not needed, because I've won a prize far more valuable than mere money!" With a wonder the man asked, "What is it, brother? I do not give you anything!" With tears in the eyes of the beggar, he answered," You've called me brother, and it is far more precious to me than an empty money .... my brother!"

Use your tongue as a power generator that can really give life and energy to those who hear your words, instead of making your tongue as a generator that only strike and shock people! Master the tongue, and let the blessing of God comes upon you, Glory to Him! (DH)


Dirty and harmful words? No way!
Clean and helpful words? Yes way!
Lord Teach me to talk in your correct way!
So, I will of never talk in a wrong way!


Created date: October 16, 2010

Senin, 18 Oktober 2010

TETAPLAH BERDOA - Keep Praying


RENUNGAN KETIGA DARI KITAB EFESUS:

”TETAPLAH BERDOA”

EFESUS 3: 14-21

”... Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus ...”


Bagaimana rasanya jikalau kita sedang ada di dalam penjara? Pastilah ada rasa kesedihan, kekecewaan, dan kehampaan yang besar dalam hati kita. Mungkin jika kita bisa berdoa saat itu, kita hanya akan berdoa meminta pengampunan Tuhan atas kesalahan yang kita perbuat, dan memohon agar Tuhan memberikan jalan untuk kita bisa terbebas dari penjara itu. Berdoa buat orang lain?? Nanti dulu deh! Tapi disini kita mau melihat sosok rendah hati dan penuh kasih dari seorang Paulus yang tetap berdoa, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk para jemaat Tuhan di kota Efesus, dan kota-kota lainnya. Selain doa, iapun dengan tulus hati menulis surat bagi mereka...
Paulus waktu itu sedang dipenjarakan, kemungkinan besar di Roma. Namun dia bukanlah dipenjarakan karena hal buruk, melainkan karena memberitakan Kristus. Kita bisa bayangkan sebagai manusia biasa harusnya Paulus marah karena ia telah bersusah payah demi Yesus, namun malah dipenjarakan. Tetapi Paulus tidaklah marah, melainkan ia memakai kesempatan dalam penjara itu untuk menulis surat kepada beberapa kota yang di dalamnya terdapat jemaat Tuhan. Paulus meneguhkan, menguatkan, dan terus memberi semangat dan ucapan kasih pada mereka semua. Dan yang paling penting, Paulus tetap mengucap syukur kepada Tuhan, dan tak henti-hentinya berdoa bagi semua orang kudus dan jemaat Tuhan (ayat 16-18), walau ia sendiri bukan sedang ada dalam keadaan yang manis dan aman.
Mungkin kita memang bukan sedang ada di penjara, tapi terkadang masalah-masalah kehidupan yang sedang kita alami menjadi batu penghalang yang besar untuk kita datang kepada Tuhan. Kita begitu marah dan malah terus menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi dalam hidup kita. ”Kenapa begini Tuhan? Kenapa begitu??” Sayapun dulu suka berpikir begitu, tapi saya telah belajar banyak, dan saat ini jika sedang ada masalah yang harus saya lakukan cuma percaya pada Tuhan, dan terus berdoa pada-Nya. Karena itu, taatilah firman berikut ini: ”Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tes. 5:16-18). Tuhan berkati berlimpah! (DH)

Aku ingin terus bersekutu dengan-Mu,
Kuwujudkan dalam bentuk doa dan seruku,
Kulantunkan dalam penyembahan dan lagu-lagu,
Aku tahu semua itu kurang bermutu,
Dibandingkan dengan karya penebusan-Mu,
Namun satu hal yang ku tahu, o Tuhanku,
Engkau tidak menganggap rendah semua itu,
Karenanya aku mau berbisik pada-Mu dengan merdu,
Yesusku, I love You.... ~ Your Son, D.H.


Dibuat tanggal: 16 Oktober 2010

______________________________________________________________________________

THIRD REFLECTION FROM THE BOOK OF EPHESIANS:

"KEEP PRAYING"

EPHESIANS 3: 14-21

For this cause I bow my knees unto the Father of our Lord Jesus Christ, Of whom the whole family in heaven and earth is named, That he would grant you, according to the riches of his glory, to be strengthened with might by his Spirit in the inner man;
That Christ may dwell in your hearts by faith; that ye, being rooted and grounded in love, May be able to comprehend with all saints what is the breadth, and length, and depth, and height; And to know the love of Christ, which passeth knowledge, that ye might be filled with all the fulness of God. Now unto him that is able to do exceeding abundantly above all that we ask or think, according to the power that worketh in us, Unto him be glory in the church by Christ Jesus throughout all ages, world without end. Amen.




How does it feel if we were in prison? Surely there is a sense of sadness, disappointment, and a great emptiness in our hearts. Maybe if we could pray at that time, we will only pray for God's forgiveness for the mistakes that we did, and asked the Lord to give way for us to be freed from prison. Praying for other people? Whoa, no way! But here we want to see a figure of Paul who still pray in love, not only for himself, but also to the church of God in the city of Ephesus, and other cities. In addition to prayer, she began with a sincere heart to write a letter for them ...
Paul was imprisoned at that time, most likely in Rome. But he was not imprisoned because of the bad things, but for preaching Christ. We can imagine as human beings Paul should be angry because he had struggled for the sake of Jesus, but instead of got something good, he was imprisoned. But Paul is not angry, he used the opportunity in prison to write letters to several cities where there are the churches of God. Paul affirm, strengthen, and continue to give encouragement and words of love to them all. And most importantly, Paul still give thanks to God, and pray unceasingly for all the saints and the churches of God (verses 16-18).

Maybe we do not currently exist in prison, but sometimes problems of life we experienced is blocked us to come to God. We are so angry and continued to blame God for what happened in our lives. "Why God? Why?? "I also ever to think like that, but I have learned a lot, and now if there is a problem, all I had to do was just believe in God, and continue to pray to Him. God bless abundantly! (DH)

Created date: October 16, 2010

Jumat, 15 Oktober 2010

NAGA YANG TUMBANG ~ The Fallen Dragon


SECOND REFLECTION FROM THE BOOK OF EPHESIANS:

"The Fallen Dragon"

Ephesian 2:1-5

"And you hath he quickened, who were dead in trespasses and sins... But God, who is rich in mercy, for his great love wherewith he loved us, Even when we were dead in sins, hath quickened us together with Christ, (by grace ye are saved;)"



Have you ever thought to become a dragon? In the third book of The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader, a boy named Eustace Clarence Scrubb who fell asleep in a dragon cave with a greedy thoughts eventually turned into a dragon. It is indeed a good thing to become a dragon. However, what if there is a bracelet that is way too small to go into the arms of a dragon stuck in his arm? Eustace suffered greatly because of it. But Aslan, the Supreme ruler Lion of Narnia is still giving "love gift" on Eustace and restore Eustace back into his human form. This happens because Eustace take steps to turn into a better person and like to help others in the form of dragon. Eustace repent, and Aslan gave forgiveness.

We also have a similar story. We previously have died because of our sins (verse 1), but a loving God has shown us His great mercy to us that would take the decision to repent. By His grace we can obtain salvation (v. 4-5). If Eustace did not change his attitude to care about other people, he will be forever trapped in the dragon's body with incredible pain in his hands, did not obtain the grace of Aslan, and be different from the human compatriots. Same thing with us, if we do not repent and abandon our old life that filled with sins, we will never receive the grace of God and will be trapped in eternal punishment. Believe in Christ, give your life to Him, and try to have a life that is pleasing in His sight. God bless! (DH)


Created date: December 15, 2010

....................................................................................

RENUNGAN KEDUA DARI KITAB EFESUS:

”NAGA YANG TERJATUH”

EFESUS 2:1-5

”Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu... Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita -- oleh kasih karunia kamu diselamatkan.”


Pernahkah anda berpikir untuk menjadi seekor naga? Di bukunya yang ketiga dalam serial novel fantasi untuk anak-anak The Chronicles of Narnia: The Voyage of The Dawn Treader, Clive Staples Lewis mengisahkan mengenai seorang anak lelaki bernama Eustace Clarence Scrubb yang tertidur di dalam sebuah gua naga dengan pikiran serakus dan sejahat naga akhirnya berubah menjadi naga. Hal itu memang merupakan sebuah keuntungan. Namun, bagaimana jika ada sebuah gelang yang terlalu kecil untuk masuk ke lengan sebuah naga menempel di lengannya? Eustace sangat menderita karena hal itu. Namun Aslan, sang Singa Agung penguasa Narnia masih memberikan “kasih karunianya” pada Eustace dan mengembalikan wujud manusia Eustace. Hal ini terjadi karena Eustace mau mengambil langkah untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan suka menolong dalam wujud naganya. Eustace bertobat, dan Aslan memberikan pengampunan.

Kitapun memiliki kisah yang serupa. Kita dahulu sudah mati karena pelanggaran dan dosa kita (ayat 1), namun Allah yang penuh kasih telah menunjukkan kebaikan-Nya yang luar biasa bagi kita yang mau mengambil keputusan untuk bertobat. Oleh kasih karunia-Nya kita dapat memperoleh keselamatan (ayat 4-5). Jika Eustace tidak mengubah sikapnya menjadi peduli pada orang lain, ia akan selamanya terperangkap dalam tubuh naga dengan kesakitan luar biasa pada tangannya, tidak memperoleh kasih karunia Aslan, dan menjadi berbeda dengan manusia sebangsanya. Sama saja dengan kita, jika kita tidak bertobat dan meninggalkan kehidupan lama kita yang penuh dengan dosa, kita tidak akan pernah mendapat kasih karunia Allah Bapa dan akan terperangkap dalam hukuman kekal. Percayalah kepada Kristus, serahkanlah hidupmu pada-Nya, dan berusahalah memiliki kehidupan yang berkenan di mata-Nya. Tuhan memberkati! (DH)

Pernah aku berjalan lewat sebuah jalan besar yang gelap... Banyak tempat yang luar biasa menarik disana... Semuanya menawarkan kenikmatan hidup dan kebahagiaan... Ku ikuti jalan itu sampai suatu saat kurasakan titik jenuh... Aku merasa hampa di tengah kenikmatan ini... Sampai kulihat ada Sosok bersinar yang memanggilku dari sebuah gang kecil yang sukar dilewati... Namun entah bagaimana ada suatu keyakinan kuat bahwa ada kedamaian yang besar akan kuperoleh pada sosok itu... Gang ini sukar dilewati, namun jiwaku haus untuk menyapa Orang itu dan memeluk-Nya... Sampai akhirnya akupun berhasil datang pada-Nya... Dia merangkulku dan sukacita yang melebihi kenikmatan di jalan besar yang gelap itu melingkupi diriku... Diapun tersenyum dan berkata, ”Selamat datang anak-Ku, Aku menunggumu sekian lama, dan betapa gembiranya Aku ketika keputusan untuk datang pada-Ku engkau ambil. Marilah, ada perjamuan kasih yang besar untukmu di rumah-Ku. Kita akan berpesta dengan saudara-saudaramu yang lain...” Barulah kusadari, bahwa orang itu ternyata Yesus Kristus...

Dibuat tanggal: 15 Oktober 2010

Kamis, 14 Oktober 2010

KEPALAKU IALAH KRISTUS ~ My Head is Christ



FIRST REFLECTION FROM THE BOOK OF EPHESIANS:

"
My head is Christ"

EPHESIANS 1.22-23

" And hath put all things under his feet, and gave him to be the head over all things to the church, Which is his body, the fullness of him that filleth all in all."


Maybe for us it should come on for a wife to obey her husband, but sometimes there are also the wives who take over leadership in the family and as if they were the head of the family. If you let this happens means there is no proper order of the hierarchy within the family. But as true Christians we must understand exactly who is the "head" who are worthy to lead our lives, and He is Jesus himself (v. 22b).
Because we are His body, it is only logical for us to obey His commandments, and put Him above all things. Can our hands say to our heads, "Do not ask me to pick it!"? Of course can’t! But that's human. Sometimes we feel proud to do everything alone, but without the Lord Jesus as the head which always guide and lead us, we are just a pile of wooden sticks that fell into the hands of children who love to play as ninjas with swords. When finished playing, we will be thrown away! Imagine if we were a pile of wood that fell into the hands of a carpenter. We can be formed into a desk or a wardrobe that are beautiful and strong!
Therefore, if we only rely on our own power and fell into the sin of pride, the devil will use us for temporary pleasure. How to avoid it? Just realize the real authority of God! Make Jesus your "Carpenter" that can be shaped us as His beautiful tools. If we are already in His hands, the devil has no power over us. Understand this seriously and make Jesus as our true head. In this way, we can become much closer and easier to obey His will and authority, because the "head" of all of us are Christ. Hallelujah! (DH)


December 14, 2010



________________________________________________________________________________



RENUNGAN PERTAMA DARI KITAB EFESUS:


”KEPALAKU IALAH KRISTUS”


EFESUS 1:22-23

”Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.”

___________________________________________________________________________

Mungkin bagi kita sudahlah semestinya bagi seorang istri untuk taat pada suaminya, namun terkadang ada juga istri-istri yang mengambil alih kepemimpinan dalam keluarga dan seakan-akan merekalah kepala keluarganya. Jika sampai hal ini terjadi berarti tidak ada susunan hirarki yang tepat dalam keluarga itu. Namun sebagai umat Kristen yang sejati kita harus paham betul siapa ”Kepala” kita yang layak untuk memimpin hidup kita, dan Dia adalah Yesus sendiri (ayat 22b).

Karena kita adalah tubuh-Nya, maka sudah sewajarnya bagi kita untuk mentaati segala perintah-Nya, dan mengutamakan Dia atas segala sesuatu. Apakah tangan kita dapat berkata kepada kepala kita, ”Jangan suruh aku mengambil barang itu!”? Tentu tidak dapat! Namun memang itulah manusia. Terkadang kita merasa sombong dan dapat melakukan segala sesuatunya seorang diri, padahal tanpa Tuhan Yesus sebagai kepala yang selalu membimbing dan memimpin kita, kita hanyalah tumpukan batangan kayu yang jatuh ke tangan anak-anak yang suka bermain pedang-pedangan. Setelah selesai dimainkan, kita aka dibuang begitu saja! Bayangkan kalau kita adalah setumpuk kayu yang jatuh ke tangan seorang tukang kayu. Kita dapat dibentuk menjadi sebuah meja atau lemari yang indah dan kuat!

Karena itu, jika kita hanya mengandalkan kekuatan sendiri dan jatuh dalam dosa kesombongan, iblis akan memakai kita untuk kesenangannya sementara, dan setelah itu kita dicampakkan ke api neraka. Bagaimana caranya supaya terhindar dari hal itu? Sadariilah otoritas Tuhan yang sesungguhnya! Jadikan Yesus ”Tukang Kayu”mu yang dapat membentukmu sebagai alat-Nya yang indah. Jika kita sudah ada di tangan-Nya, iblis tidak memiliki kuasa atas kita. Pahamilah dengan sungguh-sungguh dan jadikan Yesus sebagai kepala kita yang sejati. Dengan cara ini, kita bisa menjadi jauh lebih dekat dan mudah untuk taat pada kehendak dan otoritas-Nya, sebab ”Kepala” kita semua adalah KRISTUS. Haleluya! (DH)

Langit indah berwarna biru, dihiasi awan kelabu…

Burung-burung terbang dengan rapi, menghiasi langit yang sunyi…

Terpujilah Yesus yang Mahatahu, Dia Tuhan dan Rajaku...

Biarlah kehendakku menjadi mati, dan kehendak-Mulah yang jadi...


14 Oktober 2010